Ada baiknya kita2 yg sudah menikah maupun yg hendak menikah tahu fakta ini:
FAKTOR-FAKTOR UTAMA PENYEBAB PERCERAIAN diantaranya :
1). Perselingkuhan.
Sebagian orang kurang bersyukur dan tidak pernah puas dgn apa yg dia
miliki, sehingga suka coba2 atau kena pengaruh negatif teman. Sebagian lagi
merasa menyesal/sdh salah pilih lalu cari pelampiasan di WIL/PIL, dan ada pula
yg kembali ke cinta lamanya (berhubungan kembali dgn mantan kekasih).
2). Kurang Komunikasi.
Memang ironis di jaman sekarang saat sudah banyak alat komunikasi yg
canggih, msh banyak orang yg malah jarang saling berkomunikasi dengan
suami/istri sendiri,dan lbh sering berkomunikasi dgn teman2 kantor, rekan2
kerja, boss mereka atau teman2 arisan. Juga jarang berdoa bersama atau
beribadah bersama, karena makin sibuk dgn urusan masing2 bahkan di hari libur
sekalipun.
3). Ekonomi.
Bisa dialami oleh pasutri2 dari keluarga yg sdh super mapan sekalipun.
Aturlah keuangan dengan bijak dan tetap hidup sederhana walau diberkati Tuhan
secara finansial, karena harta duniawi sebanyak apapun bisa habis juga. Juga
bagi yg hendak menikah, jangan terlalu memaksakan diri mengadakan pesta mewah
jika memang belum mampu dan msh banyak kewajiban mencicil sana-sini. Lebih baik
menahan gengsi, daripada ekonomi langsung pincang dan menyesal di kemudian
hari.
4). Tidak Mau Mengalah.
Pernikahan bukanlah kuis adu kecerdasan untuk mencari siapa yg salah dan
siapa yg benar,tapi sarana untuk belajar saling mengerti dan jg mengampuni.
Jangan suka menuntut pasangan kita untuk berubah sesuai kehendak kita, jika
kita sendiri tidak pernah mau introspeksi diri. Jika sama2 selalu keras kepala,
maka bisa berakhir di pengadilan. Saling menerima kekurangan masing2 dengan
bijak.
5). Campur Tangan Orang Tua.
Ini masih cukup sering terjadi di Asia, termasuk Indonesia. Sebagian
orangtua masih belum bisa menerima kenyataan kalo anaknya sudah menjadi milik
orang lain, sehingga tanpa sadar suka intervensi terlalu jauh. Apalagi jika si
anak kebetulan belum mandiri secara ekonomi atau msh membantu di perusahaan
keluarga ..... orangtua msh merasa sangat berhak ikut mengatur hidup si anak.
6). Perbedaan Prinsip dan Keyakinan.
Memang, ada sebagian kawin campur yg sukses bertahan lama. Tapi lbh banyak
yg kandas di tengah jalan, bahkan cuma seumur jagung. Sebetulnya, banyak
pasutri yg merasa sangat tertekan jika tidak bisa beribadah bersama atau
dipaksa untuk pindah agama, tapi tetap berusaha bertahan hanya demi anak2
mereka.
7). Romantisme Meredup.
Bagi yg sdh lama menikah, wajar sih jika kita kadang merasa bosan,jenuh,
capek dsb. Sekali2 pergi berduaan saja ke tempat2 saat pacaran dulu atau
berbulan madu yg murah meriah bisa membantu membangkitkan api cinta lg. Jika
memang ada duit lebih, bisa juga ikut tour atau ziarah suci.
8). Konflik Peran.
Jujur saja,di Indonesia masih banyak suami yg enggan membantu istri
mengurus pekerjaan rumah tangga atau mengurus anak dgn berbagai alasan,
terutama bagi yg sudah punya pembantu. Tak ada salahnya belajar dari pasutri2
di luar negeri yg jauh lbh kompak dalam hal ini, karena megurus anak maupun
membereskan rumah sebetulnya adalah tugas berdua.
9). Perbedaan Besar Dalam Tujuan Perkawinan.
Hal yg mendasar ini seharusnya dikomunikasikan sejak awal jauh sebelum
menikah, tapi kebanyakan anak muda yg sedang dimabuk cinta saat pacaran memang
cenderung menutup mata dan menganggap remeh. Padahal tujuan orang menikah
berbeda-beda. Ada yg menikah hanya karena malu saja dgn teman2 yg sudah
menikah, ada yg menikah hanya karena mau meneruskan keturunan saja, ada yg
hanya ingin memperbaiki status sosial saja, ingin bebas saja dari orgtua,dll.
10). Seks.
Walau msh terdengar tabu dan termasuk di urutan akhir, seks terkadang juga
bisa menjadi pemicu retaknya rumah tangga. Sekali lagi, komunikasi yg baik
antar suami-istri sangat penting. Jika suami/istri kita sedang tidak mood atau
kurang fit, jangan memaksanya. Kecuali maaf..... satu2nya tujuan pernikahan
anda hanya untuk menikmati seks. Tapi kita manusia kan dikaruniai akal budi dan
lebih beradab daripada binatang (semestinya) .
edukasi.kompasiana.com : Untuk tingkat provinsi di tahun 2011, Jawa Timur masih menempati urutan pertama di bandingkan dengan provinsi lain. Kalau tingkat kabupaten, Indramayu menempati urutan pertama dan Banyuwangi yang kedua.
Dari data yang dikumpulkan PKS,
pada tahun 2009 angka perceraian di seluruh daerah di Jawa Timur sebanyak
92.729 kasus. Dari jumlah tersebut, kabupaten atau kota yang masuk 5 besar
angka perceraian yang tinggi yakni di Kabupaten Banyuwangi menempati urutan
pertama sebanyak 6.784 kasus, disusul Kabupaten Malang sebanyak 6.716 kasus,
Kabupaten Jember 6.054 kasus dan Surabaya menempati urutan keempat dengan
jumlah pasangan suami istri (pasutri) yang cerai sebanyak 5.253. Sedangkan
Kabupaten Blitar sebanyak 4.416 kasus.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Untuk konsultasi, order dan pendaftaran, bisa add pin 2A716F19. SMS 081275352866 (Fast Respon)